Sabtu, 21 Februari 2009




Buku Ajar
Dasar-dasar Anatomi dan Fisiologi
SISTEM PENCERNAAN




Recommended for Nursing and Medical Students
Compiled by Sawiji, S.Kep.Ns.MSc.


STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
PRODI S1 KEPERAWATAN
2009


Sistem Pencernaan dan Homeostasis

Sistem pencernaan berkontribusi terhadap homeostasis dengan memecah makanan menjadi bentuk yang dapat diserap dan digunakan oleh sel tubuh. Sel tubuh juga menyerap air, vitamin, dan mineral, serta mengeliminasi sampah dari tubuh. Makanan yang kita makan mengandung variasi nutrient (zat gizi) yang digunakan untuk membangun jaringan tubuh baru dan memperbaiki jaringan yang rusak. Makanan juga vital bagi kehidupan karena merupakan satu-satunya sumber energi kimia kita. Namun demikian, mayoritas makanan yang kita makan tersusun dari molekul yang terlalu besar untuk bisa digunakan oleh sel tubuh. Oleh karena itu, makanan harus dipecah menjadi molekul yang cukup kecil untuk memasuki sel tubuh, suatu proses yang dikenal sebagai digestion (pencernaan). Organ yang terlibat dalam pemecahan makanan secara kolektif dikenal sebagai sistem pencernaan.
Bidang medik khusus yang bertalian dengan struktur, fungsi, diagnosis, dan treatment (penanganan, pengobatan) penyakit lambung dan usus disebut gastroenterology (gastro- = lambung; entero- = usus; -logy = ilmu mengenai). Bidang medik khusus yang bertalian dengan diagnosis dan penanganan penyakit rektum dan anus disebut proctology (proct- = rectum).

GAMBARAN SISTEM PENCERNAAN

Tujuan:
Mengidentifikasi organ sistem pencernaan.
Menjelaskan proses dasar yang dilakukan oleh sistem pencernaan.


Gambar 1: Organ-organ Sistem Pencernaan. Tinjauan kepala dan leher dilihat dari lateralis kanan, sedangkan badan dilihat dari depan. Organ-organ traktus gastrointestinalis adalah mulut, faring, esofagus, lambung, usus kecil, dan usus besar. Organ-organ pencernaan asesoris meliputi gigi, lidah, kelenjar saliva, liver, kantong empedu, dan pankreas (Tortora dan Derrickson, 2006: 897).

Dua kelompok organ yang menyusun sistem pencernaan (gambar 1): traktus gastrointestinalis dan organ pencernaan asesoris (pelengkap). Traktus gastrointestinalis atau alimentary canal (alimentary = nourishment) adalah pipa (tube) yang menyambung memanjang dari mulut ke anus. Organ traktus gastrointestinalis meliputi mulut, mayoritas faring, esofagus, lambung, usus halus, dan usus besar. Panjang traktus gastrointestinalis yang diambil dari kadaver sekitar 9 meter (30 kaki). Pada orang yang masih hidup, ukurannya jauh lebih pendek karena otot sepanjang dinding organ traktus gastrointestinalis dalam kondisi tonus (kontraksi yang terus-menerus). Organ pencernaan asesoris meliputi gigi, lidah, kelenjar saliva, liver, kandung empedu, dan pankreas. Gigi membantu pemecahan fisik makanan, sedangkan lidah membantu mengunyah dan menelan. Organ pencernaan asesoris lainnya tidak pernah kontak langsung dengan makanan. Mereka menghasilkan atau menyimpan sekresi yang mengalir ke dalam traktus gastrointestinalis melalui duktus; sekresi tersebut membantu pemecahan kimiawi makanan.
Sistem pencernaan melakukan enam proses dasar, yaitu:
1. Ingesti. Proses ini melibatkan pemasukan makanan dan cairan ke dalam mulut (eating = makan).
2. Sekresi. Setiap hari, sel-sel di dinding traktus gastrointestinalis dan organ pencernaan asesoris mensekresi totalnya sekitar 7 liter air, asam, buffer, dan enzim ke dalam lumen (ruang dalam) traktus gastrointestinalis.
3. Mencampur (mixing) dan mendorong (propulsion). Kontraksi dan relaksasi bergantian dari otot polos dinding traktus GI mencampur makanan dan sekresi serta mendorongnya ke arah anus. Kemampuan traktus GI untuk mencampur dan menggerakkan material sepanjang traktus GI ini dinamakan motilitas.
4. Digesti. Proses mekanik dan kimiawi memecah makanan yang masuk menjadi molekul kecil. Pada digesti mekanik, gigi memotong dan menggilas makanan sebelum ditelan, kemudian otot polos lambung dan usus halus mengaduk dan mengocok makanan tersebut. Hasilnya, molekul makanan menjadi larut dan benar-benar tercampur dengan enzim pencernaan. Pada digesti kimiawi, molekul besar karbohidrat, lipid, protein dan asam nukleat dalam makanan dipecah menjadi molekul yang lebih kecil dengan hidrolisis (lihat gambar 2.15 di halaman 45). Enzim pencernaan yang diproduksi oleh kelenjar saliva, lidah, lambung, pankreas, dan usus halus mengkatalisis reaksi katabolik ini. Beberapa substansi dalam makanan dapat diserap tanpa digesti kimiawi, meliputi vitamin, ion, kolesterol, dan air.
5. Absorpsi. Masuknya cairan yang diingesti dan disekresi, ion, dan produk digesti ke dalam sel epitel yang melapisi lumen GIT disebut absorpsi. Substansi yang diabsorpsi memasuki darah atau limfe dan bersirkulasi ke sel-sel seluruh tubuh.
6. Defekasi. Sampah, substansi yang tidak dapat didigesti, bakteri, sel-sel yang lepas dari lapisan dinding GIT, dan material terdigesti yang tidak terabsorpsi di perjalanannya melalui traktus digestivus meninggalkan tubuh melalui anus dalam proses yang disebut defekasi. Material yang dieleminasikan diistilahkan sebagai feces.

CHECKPOINT
1. Komponen yang mana dari sistem digestif yang merupakan organ GIT dan mana yang organ digestif asesoris?
2. Organ sistem digestif mana yang kontak dengan makanan, dan apa fungsi digestifnya?
3. Molekul makanan apa yang mengalami digesti kimiawi, dan apa yang tidak mengalami?


LAPISAN-LAPISAN GIT

Tujuan:
Menjelaskan struktur dan fungsi lapisan yang membentuk dinding GIT

Dinding GIT dari esofagus bawah sampai kanal anus memiliki dasar yang sama, yaitu susunan empat lapisan jaringan. Empat lapisan GIT, dari dalam ke permukaan adalah mukosa, submukosa, muskularis dan serosa (gambar 2).


Gambar 2: Lapisan-lapisan Traktus Gastrointestinalis. Berbagai variasi lapisan dasar ini dapat terlihat di esofagus, lambung, usus kecil, dan usus besar. Empat lapisan traktus gastrointestinalis dari dalam ke permukaan adalah mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa (Tortora dan Derrickson, 2006: 898).

Mukosa

Mukosa atau lapisan dalam GIT adalah sebuah membran mukosa, tersusun dari (1) satu lapisan epitel yang kontak langsung dengan isi GIT, (2) satu lapisan jaringan ikat yang disebut lamina propia dan (3) satu lapisan tipis otot polos (muscularis mucosae).
1. Epitel di mulut, faring, esofagus, dan kanal anus terutama adalah nonkeratinized stratified squamous epithelium yang menjalankan fungsi protektif. Epitel kolumnar sederhana yang berfungsi pada sekresi dan absorpsi melapisi lambung dan usus. Tight junctions (taut erat) yang secara firmly membungkus sel-sel epitel kolumnar sederhana satu sama lain menahan kebocoran antar sel. Kecepatan pembaruan sel-sel epitel traktus gastrointestinalis adalah cepat: setiap 5 – 7 hari lepas dan digantikan oleh sel-sel baru. Terletak di antara sel-sel epitel tersebut adalah sel-sel eksokrin yang mensekresikan mukus dan cairan ke dalam lumen traktus gastrointestinalis, dan beberapa jenis sel endokrin, secara kolektif disebut sel-sel enteroendokrin yang mensekresikan hormon ke dalam aliran darah.
2. Lamina propia (lamina = thin/tipis, flat plate/piring datar; propia = one’s own/milik seseorang) adalah jaringan ikat areolaris yang mengandung banyak pembuluh darah dan pembuluh limfe yang merupakan jalur dimana nutrien yang diserap ke dalam traktus gastrointestinalis mencapai jaringan tubuh lain . Lapisan ini menyokong epitel dan mengikatkannya kepada muskularis mukosa. Lamina propia juga mengandung mayoritas sel sel jaringan limfe yang terhubung dengan mukosa (mucosa-associated lymphatic tissue, MALT). Nodul-nodul limfe yang menonjol ini mengandung sistem imun yang memproteksi melawan penyakit. MALT berada disepanjang traktus gastrointestinalis, khususnya tonsil, usus kecil, apendiks, dan usus besar.
3. Selapis tipis otot polos yang disebut muskularis mukosa membentuk membran mukosa lambung dan usus kecil menjadi banyak lipatan kecil yang meningkatkan area permukaan untuk digestion (pencernaan) dan absorption (penyerapan). Pergerakan muskularis mukosa memastikan bahwa seluruh sel absorptif terpapar sepenuhnya terhadap isi traktus gastrointestinalis.

Submukosa
Submukosa tersusun dari jaringan ikat areolaris yang mengikatkan mukosa kepada muskularis. Jaringan ikat areolaris tersebut mengandung banyak pembuluh darah dan pembuluh limfe yang menerima molekul-molekul makanan yang terserap. Di submukosa juga terdapat suatu jaringan neuron yang luas dikenal sebagai pleksus submukosa (untuk ringkasnya). Submukosa ini juga mengandung kelenjar dan jaringan limfe.

Muskularis
Muskularis dari mulut, faring, dan bagian superior serta tengah esofagus mengandung otot skelet yang menimbulkan voluntary swallowing (penelanan yang disadari). Otot skelet juga membentuk sfingter anal eksternal yang memungkinkan pengendalian defekasi yang disadari. Di sepanjang traktus gastrointestinalis lainnya, muskularis tersusun dari otot polos yang secara umum ditemukan dua lapisan: lapisan dalam adalah serabut sirkuler, lapisan luar adalah serabut longitudinal. Kontraksi otot polos yang tidak disadari ini membantu memecah makanan, mencampurnya dengan sekresi pencernaan, serta mendorongnya sepanjang traktus tersebut. Di antara lapisan-lapisan muskularis terdapat pleksus neuron kedua yaitu pleksus myenterikus (untuk ringkasnya).

Serosa
Bagian-bagian traktus gastrointestinalis yang suspended dalam kavitas abdominopelvik memiliki satu lapisan superfisial yang disebut serosa. Sebagaimana implikasi namanya, serosa ini adalah suatu membran serosa yang tersusun dari jaringan ikat areolaris dan epitel squamosa sederhana (mesothelium). Serosa juga disebut peritoneum viseral karena membentuk satu bagian dari peritoneum. Esofagus kurang serosanya; sebagai gantinya adalah hanya satu lapisan tunggal jaringan ikat areolaris yang disebut adventitia yang membentuk lapisan superfisial organ ini.

CHECKPOINT
4. Dimanakah di sepanjang traktus gastrointestinalis terdapat muskularis yang tersusun dari otot skelet? Apakah pengendalian otot skelet ini disadari atau tidak disadari?
5. Sebutkan nama empat lapisan traktus gastrointestinalis, dan terangkan fungsinya.


INERVASI SARAF PADA TRAKTUS GASTROINTESTINALIS
Tujuan:
Jelaskan suplai saraf pada traktus gastrointestinalis.

Traktus gastrointestinalis diregulasi oleh satu set saraf intrinsik yang dikenal sebagai sistem saraf enterik, dan oleh satu set saraf ekstrinsik yang merupakan bagian dari sistem saraf otonom.

Sistem Saraf Enterik
Sistem saraf enterik adalah ”the brain of the gut” (otaknya usus) yang tersusun dari 100 juta neuron yang memanjang dari esofagus sampai anus. Neuron-neuron sistem saraf enterik ini tertata menjadi dua pleksus: pleksus myenterikus dan pleksus submukosa (lihat gambar 2). Pleksus myenterikus (myo- = otot), atau pleksus Auerbach berlokasi di antara lapisan-lapisan muskularis otot polos longitudinal dan sirkuler. Pleksus submukosa atau pleksus Meissner ditemukan di dalam submukosa. Pleksus-pleksus sistem saraf enterik ini tersusun dari neuron motorik, interneuron, dan neuron sensorik (gambar 24.3 hal 899).
Karena neuron-neuron motorik pleksus myenterikus mensuplai lapisan muskularis otot polos longitudinal dan sirkuler, maka pleksus ini mayoritasnya mengendalikan motilitas (pergerakan) traktus gastrointestinalis, khususnya frekuensi dan kekuatan kontraksi muskularis tersebut. Neuron-neuron motorik pleksus submukosa mensuplai sel-sel sekretoris epitel mukosa, mengendalikan sekresi organ-organ traktus gastrointestinalis.
Interneuron sistem saraf enterik melakukan interkoneksi neuron pleksus myenterikus dan pleksus submukosa. Neuron sensorik sistem saraf enterik mensuplai epitel mukosa. Beberapa dari neuron sensorik ini berfungsi sebagai kemoreseptor, yaitu reseptor yang teraktivasi oleh adanya bahan-bahan kimiawi tertentu dalam makanan yang terletak pada lumen suatu organ gastrointestinalis. Neuron sensorik lainnya berfungsi sebagai strech receptors (reseptor regangan), yaitu reseptor yang teraktivasi ketika makanan membuat distensi (meregangkan) dinding dari suatu organ gastrointestinalis.

Sistem Saraf Otonom
Meskipun neuron-neuron sistem saraf enterik dapat berfungsi mandiri, namun mereka diregulasi oleh neuron-neuron sistem saraf otonom. Nervus vagus (X) mensuplai serabut parasimpatis ke kebanyakan bagian dari traktus GI, dengan perkecualian setengah akhir dari usus besar yang disuplai dengan serabut parasimpatis dari medula spinalis sakralis. Nervus parasimpatis yang mensuplai traktus GI membentuk koneksi saraf dengan sistem saraf enterik. Neuron-neuron preganglionik parasimpatis dari nervus vagus atau nervus splanchnikus pelvik bersinaps dengan neuron postganglionik parasimpatis yang berlokasi di pleksus myenterikus dan pleksus submukosa. Beberapa dari neuron postganglionik parasimpatis pada gilirannya bersinaps dengan neuron-neuron di sistem saraf enterik; yang lainnya secara langsung menginervasi otot polos dan kelenjar-kelenjar di dalam dinding traktus GI. Pada umumnya, stimulasi nervus parasimpatis yang menginervasi traktus GI menyebabkan peningkatan sekresi GI dan motilitas dengan peningkatan aktivitas neuron-neuron sistem saraf enterik.
Nervus simpatis yang mensuplai traktus GI muncul dari medula spinalis regio torakalis dan lumbalis atas. Seperti nervus parasimpatis, nervus simpatis ini membentuk koneksi saraf dengan sistem saraf enterik. Neuron postganglionik simpatis bersinaps dengan neuron-neuron yang berlokasi di pleksus myenterikus dan pleksus submukosa. Pada umumnya, nervus simpatis yang mensuplai traktus GI menyebabkan penurunan sekresi GI dan motilitas dengan inhibisi (penghambatan) neuron-neuron sistem saraf enterik. Emosi seperti marah, takut, cemas, dapat memperlambat pencernaan karena emosi tersebut menstimulasi nervus simpatis yang mensuplai traktus GI.

Jalur Refleks Gastrointestinalis
Beberapa neuron sistem saraf enterik adalah komponen dari jalur refleks GI yang meregulasi sekresi GI dan motilitasnya sebagai respon terhadap stimuli pada lumen traktus GI. Komponen inisial (yang mengawali) jalur refleks traktus GI yang tipikal ini adalah reseptor sensorik (seperti kemoreseptor dan reseptor regangan) yang terhubung dengan neuron sensorik dari sistem saraf enterik. Akson dari neuron sensorik tersebut dapat bersinaps dengan neuron lainnya yang berlokasi di sistem saraf enterik, sistem saraf pusat, atau sistem saraf otonom, menginformasikan kepada regio-regio ini mengenai the nature of the contents (kondisi isi) dan derajat distensi (peregangan) traktus GI. Neuron sistem saraf enterik, sistem saraf pusat, atau sistem saraf otonom tersebut secara bergantian mengaktivasi atau menginhibisi kelenjar GI dan otot polos, merubah sekresi GI dan motilitasnya.

CHECKPOINT
6. Bagaimanakah sistem saraf enterik diregulasi oleh sistem saraf otonom?
7. Apakah yang dimaksud dengan jalur refleks GI?

PERITONEUM
Tujuan:
Menjelaskan peritoneum dan lipatan-lipatannya.


Peritoneum (peri- = around/sekitar) adalah memban serosa terbesar dari tubuh, tersusun dari satu lapisan epitel squamosa sederhana (mesothelium) dengan satu lapisan penyokong yang mendasari berupa jaringan ikat areolaris. Peritoneum terbagi menjadi peritoneum parietalis yang melapisi dinding kavitas abdominopelvik, dan peritoneum viseralis yang menutupi beberapa organ di kavitas tersebut dan peritoneum viseralis ini adalah serosanya (gambar 3a).


Gambar 3a: Hubungan lipatan-lipatan peritoneum terhadap satu sama lainnya dan terhadap organ-organ sistem pencernaan dilihat pada potongan midsagital (Tortora dan Derrickson, 2006: 900).
Ruangan slim (tipis) mengandung cairan serosa yang terletak di antara peritoneum parietalis dan viseralis disebut kavitas peritonealis. Pada penyakit tertentu, kavitas peritonealis dapat menjadi distensi karena akumulasi beberapa liter cairan, suatu keadaan yang disebut ascites.
Beberapa organ terletak di dinding abdominal posterior dan ditutupi oleh peritoneum hanya pada permukaan anteriornya. Organ-organ yang demikian ini, meliputi ginjal dan pankreas disebut sebagai retroperitoneal (retro- = behind/di belakang).
Tidak seperti perikardium dan pleura yang dengan lembut menutupi jantung dan paru, peritoneum mengandung lipatan-lipatan besar yang weave (bergelombang) di antara visera. Lipatan-lipatan tersebut mengikatkan organ-organ terhadap satu sama lain dan terhadap dinding kavitas abdominalis, juga mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf yang mensuplai organ-organ abdominalis. Ada lima lipatan peritonealis utama, yaitu omentum mayor, ligamen falsiform, omentum minor, mesenterik, dan mesokolon.
1. Omentum mayor (omentum = fat skin/kulit lemak) adalah lipatan peritonealis terbesar, drapes over kolon transversal dan coils of usus kecil seperti sebuah ”fatty apron” (gambar 3a, 3d). Omentum mayor merupakan lapisan ganda yang folds back (melipat) pada dirinya sendiri, memberinya sejumlah empat lapisan. Dari perlekatan di sepanjang lambung dan duodenum, omentum mayor extends downward (memanjang ke bawah) di sisi depan usus kecil, kemudian membalik dan memanjang ke atas dan melekat pada kolon transversal. Normalnya, omentum mayor mengandung sejumlah penting jaringan adiposa. Kandungan jaringan adiposanya dapat sangat meluas dengan bertambahnya berat badan, menimbulkan karakteristik ”beer belly” yang tampak pada beberapa individu yang overweight (kelebihan berat badan). Beberapa nodus limfe dari omentum mayor memberikan kontribusi makrofag sel-sel plasma yang memproduksi antibodi yang membantu combat dan contain infeksi traktus GI.
2. Ligamen falsiform (falc- = sickle-shaped/berbentuk sickle) melekatkan liver ke dinding abdominalis anterior dan diafragma (gambar 3b). Liver merupakan organ pencernaan satu-satunya yang terlekatkan pada dinding abdominalis anterior.
3. Omentum minor muncul sebagai dua lipatan di dalam serosa dari lambung dan duodenum, dan suspends lambung dan duodenum dari liver (gambar 3a.3c) serta mengandung beberapa nodus limfe.
4. Suatu lipatan berbentuk fan dari peritoneum, disebut mesenterik (mes- = middle/tengah) melekatkan usus kecil ke dinding abdominalis posterior (gambar 3a, 3d). Mesenterik tersebut memanjang dari dinding abdominalis posterior untuk membungkus sekitar usus kecil dan selanjutnya kembali membalik ke asalnya, membentuk struktur berlapis ganda. Di antara dua lapisan tersebut terdapat pembuluh darah dan pembuluh limfe serta nodus limfe.
5. Suatu lipatan peritoneum, mesokolon melekatkan usus besar ke dinding abdominalis posterior (gambar 3a). Mesokolon juga membawa pembuluh darah dan pembuluh limfe ke usus besar tersebut. Mesenterik dan mesokolon bersama-sama menahan usus besar secara longgar di tempatnya, memungkinkan pergerakan saat kontraksi otot mencampur dan menggerakkan (memindahkan) isi lumen sepanjang traktus GI.

Peritonitis
Satu penyebab umum peritonitis, inflamasi akut peritoneum, merupakan kontaminasi peritoneum oleh mikroba infeksius yang dapat disebabkan karena luka kecelakaan atau pembedahan pada dinding abdominalis, atau karena perforasi atau rupturnya organ-organ abdominalis. Misalnya jika bakteri mendapat akses (jalan masuk) ke kavitas peritonealis melalui perforasi atau ruptur intestinalis dari apendik, bakteri tersebut dapat mengakibatkan suatu bentuk peritonitis akut yang mengancam kehidupan. Bentuk peritonitis yang tidak begitu serius (tetapi masih nyeri) dapat disebabkan karena rubbing together dari permukaan peritonealis yang mengalami inflamasi. Peritonitis particularly grave (yang menyedihkarn secara khusus) terkait dengan mereka yang tergantung peritoneal dialisis, suatu prosedur di mana peritoneum digunakan untuk memfilter (menyaring) darah ketika ginjal tidak berfungsi dengan semestinya.

CHECKPOINT
8. Di manakah lokasi peritoneum viseralis dan parietalis?
9. Jelaskan area-area perlekatan dan fungsi dari mesenterik, mesokolon, ligamen falsiform, omentum minor, dan omentum mayor.



Gambar 3b: Hubungan lipatan-lipatan peritoneum terhadap satu sama lainnya dan terhadap organ-organ sistem pencernaan dilihat dari anterior (Tortora dan Derrickson, 2006: 901).

Gambar 3c: Hubungan lipatan-lipatan peritoneum terhadap satu sama lainnya dan terhadap organ-organ sistem pencernaan. Omentum minor dilihat dari anterior (liver dan kantong empedu diangkat) (Tortora dan Derrickson, 2006: 901).

Gambar 3d: Hubungan lipatan-lipatan peritoneum terhadap satu sama lainnya dan terhadap organ-organ sistem pencernaan dilihat dari anterior (omentum mayor diangkat dan usus kecil direfleksikan ke sisi kanan) (Tortora dan Derrickson, 2006: 901).


MULUT
Tujuan:
1. Mengidentifikasi lokasi kelenjar saliva, dan menjelaskan fungsi dari sekresinya.
2. Menjelaskan struktur dan fungsi lidah.
3. Mengidentifikasi bagian-bagian tipikal gigi, dan membandingkan antara gigi desidua dan gigi permanen.


Mulut disebut juga oral cavity (kavitas oral) atau buccal cavity (kavitas bukal) (bucca = cheeks/ pipi) dibentuk oleh pipi, palatum keras dan palatum lunak, serta lidah (gambar 4).

Gambar 4: Struktur mulut (kavitas oral). Mulut dibentuk oleh pipi, palatum keras dan palatum lunak, serta lidah (Tortora dan Derrickson, 2006: 903).

Pipi membentuk dinding lateralis dari kavitas oral, bagian eksternalnya tertutupi oleh kulit, dan internalnya oleh membran mukosa yang tersusun dari nonkeratinized stratified squamous epithelium. Otot-otot businator dan jaringan ikat terletak di antara kulit dan membran mukosa pipi. Bagian anterior pipi berakhir di bibir.
Bibir atau labia (= fleshy borders/ perbatasan yang berdaging) adalah lipatan berdaging yang mengitari pembukaan mulut. Bibir mengandung otot orbikularis oris dan tertutupi bagian eksternalnya oleh kulit dan internalnya oleh membran mukosa. Permukaan dalam tiap bibir dilekatkan pada guzi yang sesuai oleh lipatan midline membran mukosa yang dsebut frenulum labial (frenulum = small bridle/ kekangan kecil). Saat mengunyah, kontraksi otot-otot businator di pipi dan otot-otot orbikularis oris di bibir membantu mempertahankan makanan di antara gigi atas dan bawah. Otot-otot ini juga membantu dalam berbicara.
Vestibule (= entrance to a canal/ tempat masuk ke saluran) dari kavitas oral adalah satu ruangan yang dibounded bagian eksternalnya oleh pipi dan bibir, sedangkan internalnya oleh guzi dan dan gigi. Kavitas oral sejati adalah ruangan yang memanjang dari guzi dan gigi ke fauces (= passages/ lewat), pembukaan antara kavitas oral dan faring (throat/ ...).

2 komentar:

wiwiks mengatakan...

dari d3 kebidanan ,,,,,,,
pak,,,,materinya di blog ini diperbanyak y pak..........oya pak,,,,sekalian dimasukin soal2 buat latihan saya pak,,,trima kasih

wulan rahmadhani mengatakan...

thank atas komentar positifnya mba Wiwiks... ke depan sy akan berupaya menyempurnakan blog saya ini dengan soal-soal latihan yang anda inginkan.
SAWIJI
nuwun